Senin, 21 April 2014

Tradisi Tuhan ( Roda Kehidupan ) Ukuran Kebenaran



Tidaklah baik mengukur kebenaran itu dari sisi sejarah yang bukan berdasarkan tradisi Rosull atau Tradisi Tuhan. Baik sunnahrosull ataupun Sunnahtuloh adalah mewakili dari sisi kebaikan watak, laku, pikir dan perbuatan fitrah salah satu dari mahluk yang bernama manusia. Maka jika ada suatu sisi kebaikan pastilah ada salah satu dari sisi kejahatan, pada pikir kata dan perbuatan fitarah, dari salah satu watak, sifat/ karakter atau prilaku dari mahluk yang bernama manusia.

Catat...!!!
Semua ketetapannya tentang watak, sifat/ karakter, prilaku dan tindakan, serta pikir, kata dan perbuatan yang benar menurut Taradisi Rosul dan Tradisi Tuhan termaktub dalam kitab- kitabnya. Salah satunya adalah dengan menjadikan  contoh dari melihat alam sebagai tolak ukur kebenaran yang hakiki, tentunya tidak ada pertentangan disina, semua sudah seimbang sesuai dengan kodratnya masing - masing. Bulan sebagai kodrat dari gambaran malam dan matahari sebagai gambaran dari siang. Aalegoris dari kondisi zhulumat illa nur ( gelab dan terang ), zulumat gambaran dari kondisi umat manusia dalam kegelapan dan siang gambaran dari kondisi nur/ terang Allah. Artinya ini adalah gambaran dari sisi antara hak dan bhatil, iman atau kafir. Umat manusia sudah tidak lagi hidup dalam bimbingan firman - firman tuhan, kondisi manusia saat ini sudah tidak lagi melihat kebenaran berdasarkan tolak ukur kebaikan dan kebenaran menurut Tradisi Tuhan. Hukum sudah tidak lagi berpihak pada yang benar, harta, tahta dan wanita sudah membutakan akal budi umat manusia. Manusia hanya mementingkan dirinya sendiri demi memenuhi keinginan perut dan dibawah perut, materialisme adalah watak fitrah dari sifat keserakahan umat manusia sebagai gambaran hancurnya akal budi umat manusia.



Jumat, 22 November 2013

SUNGAI KEHIDUPAN

Bila kita memperhatikan sebuah sungai yang aliran airnya tersumbat tidak lancar, maka kita akan mendapati beberapa penyebabnya sebagai berikut : pasti disungai itu banyak sampah, banyak batu dan terjadi pendangkalan karena banyak lumpur, semua hal itulah kemungkinan yang menyebabkan terjadinya air disungai tersumbat tidak mengalir lancar.
Akal budi pikiran kita ini seumpama sebuah sungai, mungkin penyebab tidak mengalirnya pemikiran kita karena terlalu banyak sumbatan yang mempengaruhi pola pikir kita dalam kehidupan ini. Baik masuk maupun keluarnya segala sesuatu yang baik dan benar menurut tuhan kedalam akal budi pemikiran kesadaran ( Sudur ) kita. Hal itulah yang mungkin menyebabkan tidak keluarnya pemikiran yang baik dari mulut dan perbuatan kita menurut tuhan dan ide-ide kreatif maupun inpirasi terutama mengalirnya ( air kehidupan/ wahyu ) sehingga tersumbat tidak lancar mengalir karena mungkin saja akal budi kita sudah dipenuhi oleh Sampah, lumpur dan kotoran/ kesenangan dunia.
Kalau sungai airnya tersubat tidak mengalir lancar salah satunya disebabkan oleh


























(1) SAMPAH
Coba perhatikan sungai Ciliwung itu jika dari sumbernya dibogor masih bening belum kotor tapi tatkala sudah sampai citayam dan depok sungai ciliwung sudah terlihat kotor dan keruh, semakin kehulu jika kita lihat didaerah tebet maka air sungai itu semakin kotor dan kumuh, coba kita bayangkan sungai ciliwung di daerah jakarta pusat dan daerah Mangga dua Sequer sungai ciliwung itu begitu kotor, kumuh dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Kalau sungai airnya tersubat tidak mengalir lancar salah satunya disebabkan oleh: SAMPAH
Hal inipun terjadi pada diri kita khususnya akal budi pikiran kita ( sudur ). Kadang kita tidak bisa mengalirkan hal - hal yang baik dari akal budi pemikiran kita mungkin karena hidup kita sudah terkotori ditutupi oleh SAMPAH kehidupan ini ( Hayatundunya ). SAMPAH seumpama berbicara tentang sesuatu yang masuk kedalam akal budi pikiran diri kita seperti kemusyrikan, kemunafikan, kefasikan, gosip (ghujorot), pikiran negatif, kebencian, iri hati, kemarahan dan sebagainya. Saat kita membiarkan diri kita termakan oleh hasutan, kemusyrikan, kemunafikan, kefasikan dan gosip ( gujorot ) kebencian dan iri hati serta tinggi hati/ sombong maka akan menumbuhkan sifat-sifat kekejian serta kemaksiatan maka sampah-sampah itu akan mengotori  akal pikiran kita sehingga menyumbat masuk dan keluarnya air kehidupan ( Wahyu ) itu dalam akal budi pikiran ( Sudur ) kita. Oleh Karena itu belajarlah MENGUASAI DIRI/ Mengendalikan akal budi pikiran dari hawa nafsu, karena kita tidak bisa melarang orang lain membicarakan kita. Karena kita tidak bisa melarang orang lain untuk berbuat kemusyrikan, kemunafikan dan kefasikan serta hal-hal buruk lainnya kecuali hanya dengan mengingatkan dengan lemah lembut...
Penyebab tidak mengalirnya air disungai salah satu yang lainnya adalah disungai tersebut banyak batu.

(2). Berbicara batu gambaran tentang sifat keras kepala atau kepala batu. Tak jarang kita selalu mempertahankan dan menentang atau membantah segala sesuatu yang mungkin kita sendiri tidak menyadarinya bahwa sebenarnya hal tersebut salah atau tidak benar baik dimata manusia maupun dimata tuhan. Kita selalu tidak dapat menerima masukan atau pendapat orang lain. Buang dan hacurkan batu sandungan itu yang membuat akal pikiran kita terkotori dengan membuka diri ( Insyiroh ). Sehingga kita mampu memaksimalkan akal budi pikiran kita dalam menyikapi semua persoalan dan dapat membedakan mana yg baik dan benar serta mana yang tidak baik dan salah ( Hak dan bathil ) baik di mata manusia dan dimata tuhan.
Hal lain yang menyumbal air mengalir di sungai adalah lumpur.


(3). LUMPUR berbicara seumpama ( Etimologi ) tentang masa lalu.
Bukankah setiap diri kita memiliki masa lalu yang buruk, yang dulu pernah kita lakukan dan kerjakan atau pemikiran masa lalu yang belum kita lakukan dan perbuat, sehingga menimbulkan keinginnan untuk melakukannya apa yang belum kita perbuat tersebut. Mungkin boleh jadi semua itu jika dilakukan akan membuat kita berkubang di dalam lumpur dosa. Semua hal tersebut dapat meyebabkan dangkalnya pola pikir kita dalam mensikapi dalam mengambil keputusan diperjalanan hidup dan kehidupan ini, sehingga memberatkan kita melangkah. Jangan sampai  akal budi pemikiran kita terperangkap dalam lumpur dosa kehidupan ini. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk  membersihkan lumpur - lumpur  masa lalu kita agar dapat menjadi sungai yang mengalirkan air kehidupan yang jernih ( Wahyu ).
SUNGAI tidak bisa mengalir dengan lancar jika ada SAMPAH, BATU dan LUMPUR, demikian juga akal pikiran kita dalam hidup ini. Oleh karena itu mari bersihkan sungai kehidupan yang ada dlm diri kita artinya akal budi pikiran kita dari segala sesuatu yang menghambat aliran air kehidupan ( Wahyu ) itu dari akal budi pikiran kita dalam menerima dan mengalirkan air kehidupan ini sehingga air kehidupan itu dapat lancar mengalir dan mengaliri kebun-kebun dan pohon yang membutuhkan air kehidupan itu. Semoga dengan lancarnya mulut kita mengalirkan air kehidupan itu dari akal budi kita sehingga menjadi rahmat badi semua makhluk dan dapat hidup berbahagia Hal itupun terjadi dalam perjalanan pemahaman ajaran wahyu yang sudah lebih 1444 tahun sejak diturunkan pertama kali pada utusannya dan mencapai kemenangan kaum mukmin hingga sekarang tentunya sudah banyak sampah _ sampah yang telah mengotori nilai - nilai kebenaran pemahaman ajaran wahyu itu dalam perjalanan selama 1444 tahun tersebut. Dimana banyak orang - orang yang mengaku alim ulama atau imam - imam telah mengotori sungai itu dengan sengaja membuang sampah - sampah ajaran pemahaman yang menyesatkan umat manusia dari jalan tuhan dengan dogma yang diklaim bahwa itu datangnya dari sang utusan tuhan.  padahal itu semua adalah propaganda ahlul - ahlu kitab setan untuk menghancurkan tatanan kehidupan yang di berkati dan dirahmati oleh Tuhan Yang Maha Esa. PTYME 

Selasa, 29 Oktober 2013

KEHIDUPAN SEPERTI BUNGA DITAMAN




Esensi dalam kehidupan ini laksana bunga - bunga di taman biarpun banyak bunga yang berbeda corak warna, jenis dan tipe, bunga - bunga itu tumbuh saling berdampingan disekelilingnya didalam taman itu. Mereka bunga - bunga itu tidak memperdulikannya antara satu dengan yang lain, karena mereka sadar dan memahami bahwa dengan semua perbedaan itu yang membuat taman itu indah. Bunga - bunga itu tetap tumbuh dan berkembang dengan beragam warna dan corak dari berbagai jenis bunga - bunga yang ada. Keindahan itu terihat elok dikarenakan adanya perbedaan diantara bunga – bunga yang tumbuh ditaman itu, sehingga memancarkan keindahan bagi mata yang memandangnya. Seandainya saja umat manusia dalam kehidupannya menjadikan kiasan bunga - bunga ditaman itu sebagai pelajaran, mereka umat manusia tidak menjadikan suku, ras, bangsa dan keyakinan serta ideologi sebagai suatu hambatan dalam menciptakan taman ( Negeri ) yang indah damai sejahtera, di dalam kehidupan ini. Umat manusia tidak menjadikan semua perbedaan itu sebagai hambatan dinding pemisah. Namun menjadikan semua perbedaan itu suatu jembatan penghubung sebagai rahmat bagi umat manusia, agar umat manusia bisa saling mengenal dan berinteraksi antara sesama umat manusia. jika saja tatanan kehidupan di dalam taman bunga itu menjadi barometer hidup dan kehidupan umat manusia, dengan satunya visi dan misi serta tujuan yaitu menuju hidup dan kehidupan yang aman damai sejahtera, walaupun banyaknya perbedaan Suku, Ras dan keyakinan, selaksa bunga – bunga ditaman yang indah itu dengan beragam warna, corak dan jenis dapat hidup berdampingan sehinga menciptakan keindahan dalam kehidupan ini bagai hidup ditaman firdaus ( Surga/ Jerusalem/ Darusalam ) PTYME

TRADISI TUHAN HABIS GELAP TERBITLAH TERANG


Tidaklah baik mengukur kebenaran itu dari sisi sejarah yang bukan berdasarkan tradisi Rosull atau tradisi Tuhan. Baik Sunnah Rosull ataupun Sunnah Tulloh adalah mewakili gambaran dari sisi kebaikan dalam perjalanan watak laku dan pola berpikir fitrah, salah satu dari mahluk yang bernama manusia. Maka jika ada suatu sisi kebaikan pastilah ada salah satu dari sisi kejahatan pada pola pikir kata dan perbuatan fitarah, dari salah satu watak, sifat/ karakter atau prilaku dari mahluk yang bernama manusia itu, sebagai pengenapan dari prinsip penciptaan yaitu prinsip ” kesepasangan “. Semua ketetapannya tentang watak, sifat/ karakter, prilaku dan tindakan, serta pola pikir, kata dan perbuatan yang benar menurut taradisi Rosul dan tradisi Tuhan termaktub dalam kitab- kitabnya, di luar dari ketetapan kitab – kitab itu bersifat palsu hanya sekedar mengira - ira dan berprasangka belaka. Kecuali ketetapannya pada alam semesta. Salah satunya adalah dengan menjadikan  contoh dari melihat alam semesta sebagai tolak ukur kebenaran yang hakiki, lihatlah tentunya tidak ada pertentangan disana, semua sudah seimbang sesuai dengan kodratnya masing - masing. Bulan sebagai kodrat dari gambaran malam dan matahari sebagai kodrat gambaran dari siang. Bulan mewakili dari gambaran kondisi zhulumat ( gelap ), zulumat adalah gambaran dari kondisi umat manusia dalam kegelapan tidak memahami eksistensi dan esensi tuhan ( Kafir, musyrik ) dan siang gambaran dari kondisi umat manusia dalam nur/ iman ( terang Allah ) .

Artinya eksistensi dan esensi alam semesta ini, adalah  sebagai ayat – ayat ( bukti – bukti ) gambaran dari eksistensi dan esensi Tuhan itu sendiri. Baik pada sisi kondisi kehidupan antara Siang dan malam atau hak dan bhatil, iman atau kafir. Lihatlah umat manusia dijaman ini sudah tidak lagi hidup dalam bimbingan firman - firman Tuhan semesta alam, kondisi manusia saat ini sudah tidak lagi melihat kebenaran berdasarkan tolak ukur kebaikan dan kebenaran menurut tradisi Tuhan ( Sunnahtulloh/ Tradisi Tuhan/ Kebiasaan Tuhan ), umat manusia sudah tidak lagi menjadikan alam semesta ini sebagai kitab ( ketetapan ) akan bukti – bukti ( ayat – ayat ) dari eksistensi dan esensi Tuhan Semesta Alam, Tuhan Yang Maha Esa. Hukum sudah tidak lagi berpihak pada yang benar, harta, tahta dan wanita sudah membutakan umat manusia, manusia hanya mementingkan dirinya sendiri demi memenuhi keinginan perut dan dibawah perut, materialisme adalah watak fitrah dari sifat keserakahan umat manusia sebagai gambaran hancurnya akal budi manusia. Karena dari setrata alam semesta ini, dari yang mikro sampai yang makro, sesungguhnya penyimpangan hanya dapat terjadi pada alam kesadaran umat manusia, sedangkan semua mahluk dan alam semesta ini sudah tunduk dan patuh pada ketetapan dan perintahnya yang telah diundangkan Tuhan Yang Maha Esa. Cobalah berpikir apakah  mungkin alam semesta ini dan bumi ini khususnya dalam kondisi terang/ siang ( nur ) jika tuhan tidak mempergilirkan dengan mengutus sang matahari untuk menerangi alam dan bumi ini disiang hari., mungkinkah kondisi kehidupan umat manusia, dalam kondisi nur/ iman ( terang ), jika tuhan Yang Maha Esa tidak mempergilirkan dengan mengutus Sang Mediator ( Rosull ) dimuka bumi ini untuk menerangi kegelapan akal budi umat manusia diabad ini. Sudahlah pasti Tuhan Semesta Alam akan mempergilirkan dengan mengutus Sang Matahari ( Sang Mediator ) sebagai penerang disiang hari ( nur/ iman ) mepergilirkan tugas Sang Bulan ( Sang pejuang ) sebagai penerang dalam kondisi dimalam hari ( zhulumat/ zhalim. PTYME

Sabtu, 19 Oktober 2013

PENDERITAAN MENJELANG ZAMAN BARU


Sesungguhnya telah dekat waktunya penggenapan  nubuah - nubuah dari sunnatullah (tradisi tuhan ) jadi janganlah kita takut atau gentar menghadapinya, cobaan dan ujian pada masa yang akan datang dapat menguncangkan keyakinan seseorang. Sebab pada waktu itu ada diantara kita akan diserahkan supaya di siksa, di bunuh serta di benci semua orang yang mengenal kita karena kita kerjalan dijalan tuhan yang hak yang menganggap bahwa azas Ketuhanan Yang Maha Esa itu kristalisasi dari kitab – kitab yang mereka yakini, dan banyak orang akan berpaling mereka saling menyerahkan serta saling membenci. Namun berawas-awaslah janganlah kita gelisah, sebab semua itu harus terjadi. Janganlah kita menganggap seperti anggapan orang - orang pada umumnya, yang mengatakan bahwa sangat mudah (gampang) untuk masuk surga suatu  kehidupan yang damai sejahtera itu, padahal belum datang kepada kita cobaan seperti yang dialami orang-orang yang terdahulu sebelum kita, kelak kita akan ditimpa kemelaratan, penganiayaan serta penderitaan dan di guncangankan dengan berbagai cobaan sebagai tradisi tuhan yang telah berlaku atas orang-orang terdahulu sebelum kita, berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, demikian juga telah di aniaya orang – orang yang memperjuangkan kebenaran sebelum kamu. Akan tetapi itu semua barulah permulaan menjelang zaman baru, sedangkan orang - orang yang bertahan pada kesudahannya akan selamat, janganlah takut terhadap mereka. Karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan terbuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan di ketahui, sebab setiap berita ( nubuah ), yang di nubuahkan oleh tuhan semesta alam, ada waktu terjadinya dan kelak kita akan mengetahuinya ( Mengenapinya ), dan janganlah kita takut pada mereka yang hanya dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membuhuh jiwa, namun takutlah kepada dia ( Tuhan Yang Maha Esa ) yang berkuasa membinasakan baik tubuh maupun jiwa. Karena barang siapa mau menyelamatkan nyawanya ia akan kehilangaan nyawanya, tetapi barang siapa kehilangan nyanwanya karena berjuang menegakan kebenaran dijalan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam rangka mempertahankan keyakinan di jalan Tuhan ia akan memperoleh upahnya, Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawa dan apakah yang dapat di berikannya sebagai ganti nyawanya. Sesungguhnya orang-orang yang menolak kabar gembira dan peringatan Tuhan yang disampaikan melalui lisan maupun tulisan Sang Mediator ( Utusan Tuhan ) dan mati dalam ketidak yakinan maka tidak akan di terima ( tebusan  seseorang diantara mereka sekalipun berupa emas seperut bumi ) dan seandainya mereka memiliki segala apa yang ada di bumi serta ditambah sebanyak itu lagi, untuk menebus diri mereka pada hari penghakiman tetap tidak akan di terima, itulah orang-orang yang merugi dan tidak memperoleh penolong.
Janganlah takut mati karena cepat atau lambat kematian itu akan mendapatkan kita, kendatipun kita berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh sekalipun. Sesungguhnya Tuhan telah membeli harta dan jiwa orang-orang meyakini mereka berjuang sungguh-sungguh di jalan Tuhan, kemudian jikalau kematian menimpa mereka sebelum sampai ketempat yang di tuju lalu gugur atau hidup sehingga sampai memperoleh kemenangan, sungguh upah ( pahalanya ) telah di tetapkan oleh Tuhan yang maha esa atas mereka. Namun janganlah engkau seperti orang – orang yang tidak mengenal Tuhan dengan mati bunuh diri namun mengatas namakan berjuang dijalan Tuhan, karena hal tersebut menandakan engkau tidak berjuang bersunguh – sunguh, karena jalan itu adalah jalan setan, mereka hendak mengalihkan perhatian dengan membuat keributan sehingga menguncangkan keayakinan orang - orang sehingga kita tidak berjuang bersungguh - sungguh menurut perintah Tuhan Yang Maha Esa yang telah ditetapkan, menandakan mereka  itu orang – orang yang berputus asa dalam berjuang untuk mengalahkan orang - orang kafir/ musyrik. Namun bagi orang-orang yang meyakini dan yang tetap konsis dalam perjalanan ini, hidup maupun mati mereka berada disisi tuhan semesta alam dan ditempatkan pada derajat yang paling tertinggi. Oleh karena itu janganlah menempuh jalan orang fasik dan janganlah mengikuti jalan orang musyrik maupun jalan orang munafik janganlah melaluinya menyimpanglah dari padanya dan tetaplanh di jalan yang di ridhoinya. Sungguh inilah jalan yang lurus maka ikutilah dan jangankah bercerai berai setelah Tuhan Yang Maha Esa memberikan petujuk. Setiap orang yang ingin meniti jalan yang lurus ia harus menyangkal dirinya, tidak berfikir dengan berasumsi berdasarkan kehendak dirinya dan di persaksikan kebenarannya berdasarkan ( pemikiran dirinya sendiri ). Janganlah mengerjakan pekerjaan yang tidak diperintahkan, janganlah mengganti perintah dengan perintah yang lain yang tidak di perintahkan. Janganlah menganti perkataanan yang tidak dikatakan, pada hakekatnya menusia selalu cenderung mengikuti hawa nafsunya yang rendah, kita tidak boleh menggunakan cara sendiri, kebijaksanaan dan pertimbangan pemikiran pribadi yang selalu cenderung menghindar dari resiko yang buruk yang telah menunggu. Setiap orang berkeyakinan yang meniti jalan kebenaran/  jalan tuhan serta tetap eksis  dalam perjalanan ini, selain dia harus menyangkal dirinya dia pun harus berani memikul sebab akibat dari sebuah resiko dalam perjuangan. Makna simbolik dari penindasan penyiksaan dan represif yang diupayakan oleh para ahlul kitab dan penguasa bangsa – bangsa itu, sehinga tidak ada kebebasan beraktifitas bagi para pejuang kebenaran menjalankan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena ruang gerak perjuangan sangat terbatas dan dibatasi dengan tujuan untuk mematikan dan membunuh dari gerakan perjuangan mesianik ini, itu semua adalah salah satu tahapan yang harus di lewati sebagai perjalanan menjelang zaman baru. Dalam menjalani semua itu janganlah kita melanggarnya ikuti dan taatilah karena itu adalah sebagai siasat penguasa bangsa-bangsa dan para ahlul kitab untuk melemahkan gerakan perjuang ini, namun bukan berakti perjuangan ini berhenti, kita harus tetap berjalan dengan tidak melanggar rambu-rambu hukum positif bangsa-bangsa, untuk itu semua pandai -pandailah bersiasat itulah makna dari berani memikul salibnya: sebab akibat dari sebuah resiko dalam perjuangan. Sebuah makna simbolik dari penindasan penyiksaan dan represif. Namun telepas dari penjelasan diatas tentang memikul salibnya: sebab akibat dari sebuah resiko dalam perjuangan. Maka barang siapa lebih mengasihi dan mencintai bapak atau ibunya, anak dan keluarganya, harta serta kekayannya yang di usahakan, perniagaan yang kamu khawatir merugi, rumah – rumah tempat tinggal lebih kamu sukai dan cintai dari pada Tuhan Yang Maha Esa dan ( Sang Mediator ) penyampai risalahnya serta berjuang di jalannya, maka ia tidak layak masuk kedalam kerajaan Tuhan alam semesta yang damai sejahtera itu nantinya. Kesemuanya itu adalah kecintaan kepada kehidupan hayati dunya ( Materi  ) yang dapat memasung aktifitas dalam menjalankan pergerakan perjuangan, namun bukan berakti kita menapikan itu semua, kerena itu semua sebagai sarana dalam perjuangan ini bukanlah tujuan akhir dalam perjuangan ini, kita masih membutuhkan dukungan finansial itu. Jika kita terpasung di tiang hayati dunya sehingga kita tidak dapat beraktifitas menjalankan pengabdian hakekatnya kita tidak sanggup dan mampu untuk memikul salibnya: sebab akibat dari sebuah resiko dalam sebuah perjuangan. Tetaplah berjuang dengan bersungguh - sungguh bukankah tanda - tanda zaman baru itu telah dekat, lihatlah...! perbuatan manusia - manusia akhir zaman ini tidak ubahnya seperti perbuatan orang - orang jahiliyah dahulu kala. Kemaksiatan, pembunuhan, kolusi, korupsi, pemuka - pemukan ahlul kitab mereka menukar ayat - ayat tuhan dengan harga yang sedikit, maka pada akhirnya akan terjadi bangsa akan melawan bangsa, darah dan air mata akan menamabah semaraknya kekejian menjelang zaman baru itu tiba. Tunggulah...!!! sesungguhnya, kamipun menunggu... PTYME

Jumat, 18 Oktober 2013

KUNCI KEPERCAYAAN ( KEYAKINAN )

Manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan ( Keyakinan ). Kepercayaan itu akan melahirkan tata nilai guna menopang hidup dan budayanya. Sikap tanpa percaya atau ragu yang sempurna tidak mungkin dapat terjadi. Tetapi selain kepercayaan itu dianut karena kebutuhan dalam waktu yang sama juga harus merupakan kebenaran. Demikian pula cara berkepercayaan/ berkeyakinan harus pula benar. Menganut kepercayaan/ keyakinan yang salah bukan saja tidak dikehendaki akan tetapi bahkan berbahaya. Disebabkan kepercayaan itu diperlukan, maka dalam kenyataan kita temui bentuk-bentuk kepercayaan yang beraneka ragam di kalangan masyarakat. Karena bentuk- bentuk kepercayaan itu berbeda satu dengan yang lain, maka sudah tentu ada dua kemungkinan: kesemuanya itu salah atau salah satu saja diantaranya yang benar. Disamping itu masing-masing bentuk kepercayaan mungkin mengandung unsur-unsur kebenaran dan kepalsuan yang campur baur. Sekalipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa kepercayaan itu melahirkan nilai-nilai. Nilai-nilai itu kemudian melembaga dalam tradis-tradisi yang diwariskan turun temurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya. Karena kecenderungan tradisi untuk tetap mempertahankan diri terhadap kemungkinan perubahan nilai-nilai, maka dalam kenyataan ikatan-ikatan tradisi sering menjadi penghambat perkembangan peradaban dan kemajuan manusia. Disinilah terdapat kontradiksi kepercayaan diperlukan sebagai sumber tatanilai guna menopang peradaban manusia, tetapi nilai-nilai itu melembaga dalam tradisi yang membeku dan mengikat, maka justru merugikan peradaban. Oleh karena itu, pada dasarnya, guna perkembangan peradaban dan kemajuannya, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap bentuk kepercayaan dan tata nilai yang tradisional, dan menganut kepercayaan yang sungguh-sungguh yang merupakan kebenaran. Maka satu-satunya sumber nilai dan pangkal nilai itu haruslah kebenaran itu sendiri. Kebenaran merupakan asal dan tujuan segala kenyataan. Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Perumusan kalimat persaksian yang mengukuhkan kepercayaan dan keyakinan seseorang kepada Tuhan Yang Maha Esa mengandung gabungan antara peniadaan dan pengecualian. Perkataan "Tidak ada Tuhan" meniadakan segala bentuk kepatuhan serta kehendak dan perintah selain yang dari Tuan semesta alam, Tuhan yang maha esa, sedangkan perkataan "Selain Tuhan Yang Maha Esa" memperkecualikan hanya satu kepercayaan kepada kebenaran yang datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa melalui Sang Mediator Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Dengan peniadaan itu dimaksudkan agar manusia membebaskan dirinya dari belenggu segenap kepercayaan yang ada dengan segala akibatnya, dan dengan pengecualian itu dimaksudkan agar manusia hanya tunduk dan patuh pada ukuran kebenaran dalam menetapkan dan memilih nilai - nilai, itu berarti tidak ada ketunduk patuhan selain kepada Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta segala yang ada termasuk manusia. Tunduk dan patuh itu disebut berserah diri. Tuhan itu ada, dan ada secara mutlak hanyalah Tuhan. Pendekatan ke arah pengetahuan akan adanya Tuhan dapat ditempuh manusia dengan berbagai jalan, baik yang bersifat intuitif, ilmiah, historis, pengalaman dan lain-lain. Tetapi karena kemutlakan Tuhan dan kenisbian manusia, maka manusia tidak dapat menjangkau sendiri kepada pengertian akan hakekat Tuhan yang sebenarnya. Namun demi kelengkapan keyakinan kepada Tuhan, manusia memerlukan pengetahuan secukupnya tentang Ketuhanan dan tatanilai yang bersumber kepada-Nya. Oleh sebab itu diperlukan sesuatu yang lain yang lebih tinggi namun tidak bertentangan denga insting, indera yang berlandaskan pada logika dari nilai – nilai universal. Sesuatu yang diperlukan itu adalah "Wahyu" yaitu pengajaran atau pemberitahuan yang langsung dari Tuhan sendiri kepada manusia melalui utusannya ( Sang Mediator ). Tetapi sebagaimana kemampuan menerima pengetahuan sampai ketingkat yang tertinggi tidak dimiliki oleh setiap orang, demikian juga wahyu tidak diberikan kepada setiap orang. Wahyu itu diberikan kepada manusia tertentu yang memenuhi syarat dan dipilih oleh Tuhan sendiri yaitu para Nabi dan Rasul atau utusan Tuhan ( Sang Mediator ). Dengan kewajiban para Rosul itu untuk menyampaikannya kepada seluruh ummat manusia. Para rasul dan nabi itu telah lewat dalam sejarah semenjak Adam, Nuh ( Noah ), Ibrahim ( Abraham ), Musa ( Moses ), Isa atau Yesus anak Mariam ( Maria ) sampai pada Muhammad SAW. Jadi para Nabi dan Rasul ( Sang Mediator ) itu adalah manusia biasa dengan kelebihan bahwa mereka menerima wahyu dari Tuhan. Jadi untuk memahami Ketuhanan Yang Maha Esa dan ajaran-ajaran-Nya, manusia harus berpegang kepada Kitab – kitabnya dengan terlebih dahulu mempercayai Visi dan Misi kerasulan . Maka persaksian yang kedua memuat esensi kedua dari kepercayaan yang harus dianut manusia, yaitu bahwa Para Nabi dan Rosul itu adalah utusan ( Sang Mediator ) Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian di dalam kitab – kitab didapat keterangan lebih lanjut tentang Ketuhanan Yang maha Esa dengan ajaran-ajaranNya yang merupakan garis besar dan jalan hidup yang mesti diikuti oleh manusia. Tentang Tuhan antara lain menerangkan secara singkat; katakanlah " Bahwa tidak ada Tuhan selain dia Tuhan Yang Maha Esa. Janganlah ada illah – illah lain selain berillah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hanya padanya manusia menaruh segala harapan ”. DIa adalah Sang Pencipta, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Kasih dan Maha Sayang, Maha Pengampun dan seterusnya dari pada segala sifat kesempurnaan yang selayaknya bagi Yang Maha Agung dan Maha Mulia, Tuhan Semesta Alam dan "kemanapun manusia berpaling maka disanalah wajah Tuhan" (2:115). Dan "Dia itu bersama kamu kemanapun kamu berada" (57:4). Jadi Tuhan tidak terikat ruang dan waktu. Sebagai "yang pertama ( Alfa ) dan yang terakhir ( Omega )" maka sekaligus Tuhan itu adalah asal dan tujuan segala yang ada, termasuk tata nilai. Artinya; sebagaimana tata nilai harus bersumber kepada kebenaran dan berdasarkan kecintaan kepadaNya, Iapun sekaligus menuju kepada kebenaran dan mengarah kepada"persetujuan/ berkat" atau "ridhanya". Inilah kesatuan antara asal dan tujuan hidup yang sebenarnya ( Tuhan sebagai pusat central tujuan hidup dan kehidupan yang benar ). Tuhan menciptakan alam raya semesta ini dari yang Makro sampai yang Mikro dengan sebenarnya dan mengaturnya dengan pasti . Oleh karena itu alam mempunyai eksistensi yang riil dan obyektif, serta berjalan mengikuti hukum-hukum yang tetap ( Fitrah ). Dan sebagai ciptaan dari pada sebaik-baiknya penciptanya, maka alam mengandung kebaikan pada dirinya dan teratur secara harmonis. Nilai ciptaan ini untuk manusia bagi keperluan perkembangan peradabannya umat manusia. Maka dengan memperhatikan alam sebagai bentuk potret/ gambaran eksistensi Tuhan dialam semesta ini dapat dijadikan obyek penyelidikan guna dimengerti dan difahami akan hakekat kepastian hukum-hukum Tuhan (sunnatullah/ Tradisi Tuhan) yang berlaku didalamnya. Kemudian manusia memanfaatkan alam sesuai dengan hukum-hukumnya. Jadi kenyataan alam ini berbeda dengan prasangkaan idealisme yang mengatakan bahwa alam tidak mempunyai eksistensi riil dan obyektif, melainkan semua palsu atau maya atau sekedar emansipasi atau pancaran daripada dunia lain yang kongkrit, yaitu idea atau nirwana ( Surga ). Juga tidak seperti dikatakan para filsafat Agnosticisme yang mengatakan bahwa alam tidak mungkin dimengerti manusia. Dan sekalipun filsafat materialisme mengatakan bahwa alam ini mempunyai eksistensi riil dan obyektif sehingga dapat dimengerti oleh manusia, namun filsafat itu mengatakan bahwa alam ada dengan sendirinya. Peniadaan pencipta ataupun peniadaan Tuhan adalah satu sudut pandang daripada filsafat materialisme.




Manusia adalah puncak ciptaan dan mahluk-Nya yang tertinggi ( Paripurna ). Sebagai mahluk tertinggi manusia dijadikan "Khalifah" atau wakil Tuhan di bumi. Manusia ditumbuhkan dari saripati bumi dan diamatkan untuk memakmurkannya. Maka urusan di dunia telah diserahkan Tuhan kepada manusia – manusia pilihannya yaitu Sang mediator ( khalifah ) sebagai penganti/ wakil tuhan dimuka bumi ini. Manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas segala perbuatannya di dunia. Perbuatan manusia ini membentuk rentetan peristiwa yang disebut "sejarah". Dunia adalah wadah bagi sejarah, dimana manusia menjadi pemilik atau "rajanya". Rusaknya Alam semesta ini tak luput dari imbas karena rusaknya tatanan social dan budaya umat manusia sedangkan rusaknya tatanan social budaya umat manusia itu rusak tak luput karena rusaknya akal budi umat manusia. Sebenarnya terdapat hukum-hukum Tuhan yang pasti ( Tradis Tuhan/ sunattullah ) yang menguasai sejarah, sebagaimana adanya hukum yang menguasai alam tetapi berbeda dengan alam yang telah ada secara otomatis tunduk kepada tradisi tuhan/ sunatullah itu, karena kesadaran manusia dan kemampuannya untuk mengadakan pilihan untuk tidak terlalu tunduk kepada hukum-hukum kehidupannya sendiri. Ketidak patuhan itu disebabkan karena sikap menentang     ( Kafir ) atau kefasikan ( kebodohan ). Hukum dasar alami dari pada segala yang ada inilah "perubahan dan perkembangan", sebab segala sesuatu ini adalah ciptaan Tuhan dan pengembangan olehNya dalam suatu proses yang tiada henti-hentinya. Segala sesuatu ini adalah berasal dari Tuhan dan menuju kepada Tuhan. Maka satu-satunya yang tak mengenal perubahan hanyalah Tuhan itu sendiri ( Tradisi Tuhan ), asal dan tujuan segala sesuatu. Di dalam memenuhi tugas sejarah, manusia harus berbuat sejalan dengan arus perkembangan itu menunju kepada kebenaran. Hal itu berarti bahwa manusia harus selalu berorientasi kepada kebenaran, dan untuk itu harus mengetahui jalan menuju kebenaran itu. Dia tidak mesti selalu mewarisi begitu saja nilai-nilai tradisional yang tidak diketahuinya dengan pasti akan kebenarannya “Jangan kamu ikuti apa – apa yang kamu tidak tahu ilmunya ( Wahyu ). Oleh karena itu kehidupan yang baik dan benar adalah yang dilandasi oleh iman dan diterangi oleh ilmu difinisi dari ilmu itu sendiri adalah ‘Wahyu”. Sedangkan bidang ilmu pengetahuan ( Saint/ IT ) menjadi wewenang manusia untuk mengusahakan dan mengumpulkannya dalam kehidupan dunia ini. Ilmu itu meliputi tentang alam yang Makro dan tentang yang Mikro ( manusia ). Untuk memperoleh ilmu ( Wahyu ) tentang nilai kebenaran sejauh mungkin, manusia harus melihat alam dan kehidupan ini sebagaimana adanya tanpa melekatkan padanya kualitas-kualitas yang bersifat ketuhanan. Sebab sebagaimana diterangkan dimuka, alam diciptakan dengan wujud yang nyata dan objektif sebagaimana adanya. Alam tidak menyerupai Tuhan, dan Tuhan pun untuk sebagian atau seluruhnya tidak sama dengan alam. Sikap memper-Tuhan-kan atau mensucikan ( sakralisasi ) haruslah ditujukan kepada Tuhan itu sendiri. “ Tuhan Yang Maha Esa “. Ini disebut "Tauhid" dan lawannya disebut "musyirik" artinya mengadakan tandingan terhadap Tuhan, baik seluruhnya atau sebagian maka jelasnya bahwa kemusyirikan itu menghalangi perkembangan dan kemajuan peradaban kemanusiaan menuju pada paripurna penciptaan umat manusia itu sendiri dan kebenaran. PTYME

Senin, 14 Oktober 2013

ATLANTIS MONOTEISME

Secara Filisofis dan historis apa yang telah dirumuskan oleh para FOUNDING FATHER Republik ini yaitu PANCASILA, secara langsung atau tidak langsung mungkin terispirasi serta ada kemiripan( Paralelisme ) dengan konsep Plato tentang "Negara Ideal" dengan karyanya "REPUBLIK" yang dikenal dengan Konsep Kepemimpinan ideal. "PLATONIS" adalah KING PHILOSOPHER" konon konsep ini, Plato terinpirasinya dari kisah sistem kepemimpinan Pemerintahan yang dikenal dengan nama Bangsa ATLANTIS. Menurut Plato suatu bangsa akan selamat, hanya bila dipimpin oleh seorang PHILOSOPHER/ FILISOF " Karena hanya seorang FILISOF yang di dalam memimpin suatu kekuasaan, mengunakan kepalanya ( akal budi dan nurani universal ) yaitu seseorang pencinta kebenaran sejati dan kebijaksanaanlah yang dapat memimpin dengan selamat. Bukan para "SOPHIS"( para Intelektual Spiritualis Matrialis  ). Hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin akan nampak dalam suatu pola yang menggambarkan tipe kepemimpinan seseorang. Proses hubungan antara seseorang yang memimpin dengan seseorang yang dipimpin juga akan nampak dalam pribadi seorang pemimpin, atas dasar inilah maka timbul beberapa tipe kepemimpinan, Plato sendiri membagi kelasifikasi tipe ideal manusia pemimpin menjadi 3 yaitu:





1. Manusia kepala, para " FILISOF" yaitu Cendikiawan yang arif bijaksana berdasarkan tuntunan konsep universal kewahyuan ( Utusan Tuhan ) atas dasar dalam terminologi agama Istilah PHILOSOPHER/ PHILOSOPIA atau SAPIENTEA di era yunani kuno identik dengan Hikmah/ Wahyu/ ajaran konsep ketuhanan.
2. Manusia Otot dan dada ( Militer )
3. Manusia Perut ( Para Kolomerat/ Pengusaha ).


Apabila suatu bangsa, jika  kepemimpinannya di serahkan kepada manusia bertipe ke 2 ( Pemimpin yang menjadikan militer sebagai kekuatan dalam menjalankan roda kekuasaannya ) maka akan melahirkan  Pemimpin yang otoriter ( Peperangan ) setipe Hitler, seperti diera abad 19 dan 20 dan Jika suatu bangsa, kepemimpinannya di serahkan kepada manusia bertipe ke 3 ( kolomerat/ Pengusaha ) maka akan melahirkan manusia - manusia rakus, hukum rimba meraja rela dan terjadinya kanibalisme ( Liberalis/ Kapitalis ) yang merasuk ke  dalam segala aspek hidup dan kehidupan. Jadi semakin jelaslah mengapa Konsep Kepemimpinan berdasarkan PANCASILA itu ditulis dan ditetapkan sebagai hasil dari CONCILINESIA Para KIYAI - PENDETA - BIKSU serta para pemuka agama dari segala keyakinan yang ada di Indonesia dibawah kepemimpinan Sukarno - Hata. Dirumuskannya Pancasila itu, dalam rangka untuk menyelamatkan persatuan dan kesatuan serta kemerdekaan yang sudah diraih. Oleh karena itu Pancasila dijadikan sebagai Filsafat/ Filsafah dan pedoman, sekaligus sebagai pondasi karakter bangsa ini. Dimana di dalam pancasila itu, terdapat konsep Ketuhanan Yang Maha Esa, bagian pertama yang dijadikan sebagai landasan di dalam membangun persatuan dan kesatuan persepsi beryakinan serta mengatur jalannya roda ( sistem ) keragaman keyakinan. Di mana konsep dari Ketuhanan Yang Maha Esa itu, adalah sebagai satu - satunya kunci untuk menciptakan manusia - manusia paripurna yang bermoral baik dan berakal serta arif nan bijaksana. Sebagai potret dari Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri dan dapat juga untuk mewujudkan dari sistem hidup dan kehidupan umat manusia - yang  memiliki karakter madani, toleransi dalam menghormati hak berpikir, menyakini menurut keyakinan masing - masing individu maupun kelompok. Karena konsep Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah jalan satu - satunya sebagai benang merah untuk menjembatani tentang makna dari esensi berketuhan, semua itu sangat terkait erat dengan kearifan abadi ( fitrah ) dari karakter - karakter manusia madani dan juga untuk menjembatani tentang sumber akar permasalahan dan perbedaan pandangan berketuhanan dari berbagai keyakinan/ agama rakyat bangsa ini khususnya dan umat manusia dimuka bumi ini pada umumnya, baik itu agam Hindu, Budha, Zoroaster, Yahudi, Konfusianisme - Taoisme, Kristen/ katolik -  Nasrani dan Islam, bahkan para kaum filsata-ideologi Pancasila sekalipun. Adapun hal ini sedikit banyak mempunyai  kemiripan, terkait dengan konsep kepemimpinan versi "PLATO". Karena Plato konon, katanya dia mengabdosi dan mengambilnya dari mempelajari Peradaban Luhur Tertua Manusia yang kita ketahui yaitu peradaban Atlantis yang katanya, kehidupan bangsa Atlantis itu adalah suatu bentuk gambaran potret kehidupan madani/ surga yang nyata dimuka bumi ini, Atlantis sendiri   berasal dari bahasa sanskrit yaitu Atala yang berarti Surga atau kesucian jadi makna Atlantis itu sendiri adalah tanah surga atau tanah suci. Mungkin jika boleh saya berasumsi, bahwa kehidupan Bangsa Atlantis itu, jika ditarik ke peradaban kehidupan setelahnya, tidak lebih sama seperti peradapan kehidupan seperti di era Jerusalem dikala jaman Josua/ Sulaiman atau seperti peradapan kehidupan diera kekalifahan dengan Madinahnya ( Daarusalam ), dimana pada jaman itu itu, sistem pemerintahan di pimpin dengan konsep universal Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai landasan pikir, kata dan perbuatan umat manusia dalam hidup dan kehidupannya. Walaupun dimasa itu  pluralisme berkeyakinan, suku, ras dan bangsa mewarnainya, namun dapat disatukan dengan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa yang diajarkan oleh Sang mediator Tuhan Yang Maha Esa ( Utusan Tuhan ). Entah benar atau tidak lokasi dari Atlantis itu menurut banyak kaum arkeolog seperti Ario Santos adalah di ( Sunda Land ), nama tua dari gugusan pulau Nusantara yang sekarang kita kenal bernama Indonesia. Kisah Atlantis juga disenyalir berkaitan dengan kisah para dewa dalam mitologi Yunani kuno yaitu kisah tentang " Zeus "dan ada juga kisah Atlantis dalam kitab suci Hindu Rig Veda - Puranas yg mirip dengan kisah mitologi yunani kuno tersebut tentang "ZEUS" bapak dari para dewa sama halnya dengan "Abraham/ ibrahim" sebagai bapak para nabi - nabi dan Rasul - rasul, dari  segala bangsa yang mengajarkan, untuk menjadikan ketentuan - ketentuan ( ketetapan ) baik perintah maupun larangan tuhan, itu sebagai landasan konsep dalam mewujudkan sistem hidup dan kehidupan yang fitrah ( hanif ) serta aman, damai dan sejahtera. Seandainya hipotesa history dari semua yang saya utarakan diatas itu benar adanya, mungkinkah semua itu akan terulang kembali dan terjadi lagi dibumi nusantara ini..? Jika saja kita termasuk manusia - manusia  yang menyakini tentang rancangan blueprit dari tradisi tuhan, maka hal itu bisa saja menjadi kemungkinan yang benar - benar pasti akan terjadi lagi, sebagai bentuk dari pengulangan dalam sejarah peradapan umat manusia. Yang mana hal itu masih menjadi ketetapan pasti sang pengatur alam semesta ini. Karena hidup dan kehidupan ini laksana roda berputar. Jika perputaran roda itu berawal dari titik nol, maka akan kembali berakhir ke titik nol lagi ( yang awal jadi akhir yang akhir jadi awal ). jika saja titik nol itu akan menjadi awal berputarnya kembali roda kehidupan peradapan umat manusia, maka bisa saja bumi Nusantara ini akan dijadikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, menjadi titik awal kebangkitan peradapan umat manusia kembali, seperti peradapan Atlantis dahulu kala atau seperti diera jerusalem di jaman sulaiman atau seperti di madinahtul munawaroh( Darusallam ) dijaman kekhalifahan. Yang kesemuanya peradapan itu di bangun atas dasar konsep ketuhanan yang maha esa dan ketentuan pasti dari kesemua itu adalah adanya campur tangan tuhan dengan membangkitkan seorang FOUNDING FATHER sebagai mediator tuhan untuk mengajarkan konsep hidup dan kehidupan berdasarkan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa. Sehingga indonesia ( Nusantara ) akan menjadi mercusuar dunia melengenda sepanjang masa seperti Atlantis, Jerusalem ( Darusallam ) dan Madinah ( Darusallam ). PTYME