Selasa, 26 Juni 2012

SERAT KATULISTIWA

  Bangkitlah hai.. engkau pewaris tahta raja di raja, dari kerumunan seribu raja-raja. Kobarkanlah Api perjuangan, jangan sampai padam tertiup angin timur maupun barat. Ingatkah engkau akan kisah kejayaan para kesatria katulistiwa yang gagah perkasa. Menaklukan seribu raja-raja di garis lintang serat katulistiwa, di bawah panji bhineka tungal ika amukti palapa.

  Tancapkan keris itu ke dada musuh-musuh mu, Samapta..!samapta..! hai... engkau para kesatria, rawe-rawe rantas, malang-malang puntas. Jangan engkau mundur walau hanya setapak, jangan engkau bimbang walau bhatin mu ragu, karena keraguan itu bertanda engkau mengunakan akal mu untuk berpikir.

"SURO DIRO JOYO JAYA DININGRAT - LEBUR DENING PANGASTUTI" jika yang hak telah datang maka yang bhatil pasti lenyap.Lihatlah cahaya sang surya telah memancar bertanda fajar telah menyingsing,menyambut pagi penuh harapan.

KUBUR SURGA ABADI

 Di Suatu masa, saat sang mentari fajar menyingsing yang pancaran cahayanya tak terbatas "Cahaya di atas Cahaya" kebenaran di atas ke benaran. Menyikap tabir ke gelapan yang penuh dengan pergolakan bersimbah darah. Laju-laju perahu laju, buluh perindu berbunyi merdu.

 Budak-budak pantang menyerah menyambut bakti pada sang tuan, Bertegur sapa saling tersipu menatap esok penuh harapan, elok nian syair punjangga menggugah jiwa pada fitrahnya. Salam hormat para pejuang membakar luka dengan senyumman. 

 Pantang takluk pada penghadang mengenggam trisula lambang ke jayaan, Taklukkan samudra ke hidupan. Salam Damai sejahtera, Sallom, Asallam"mua'llaikum ya ahli kubur surga abadi tempat akhir mengabdi.

KESATRIA KE GELAPAN

Hai... kau para pemuja durjana, engkau takkan dapat berlari serta bersembunyi dari ujung pedang ku, walau sampai ke lobang semut sekalipun akan ku temukan. Untuk menjemput nyawa mu sebagai penebus akan dosa-dosa yang telah engkau lakukan. Aku tak akan ragu untuk memporak-porandakan iman mu yang berbalut dogma para penyihir, mereka membisikkan kejahatan ke dalam alam kesadaran yang meniup buhul-buhul tali hasutan sehinga engkau murtad dan terjerembab ke dalam kubanggan tradisi nenek moyang mu." JANGANLAH engkau menyangka bahwa aku datang untuk meniadakan hukum tuhan atau kitab-kitab para nabi dan Rasul, melainkan aku datang untuk mengenapinya. "Karena aku berkata kepada mu sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini. Satu iota atau satu titikpun tidak akan di tiadakan dari hukum tuhan, sebelum semuanya terjadi. Aku akan berperang di jalan tuhan sehingga aku membunuh atau terbunuh, sebagai janji yang benar dari Tuhan Semesta Alam yang tertulis di dalam kitab-kitab para nabi dan Rasul" TAURAT, INJIL, AL QURAN dan WEDA.

HIDUP BUKANLAH ILUSI

Ke bahagian dan kesedihan datang silih berganti, tak ubahnya seperti mimpi. Tak ada satupun di dunia ini yang abadi, semuanya cepat berubah. Bagai gerak awan di angkasa raya, sesaat kelam sesaat cerah, sesaat malam sesaat siang, sesaat gelap sesaat terang. Perputaran waktu antara sang surya dan sang rembulan silih berganti menerangi alam jagat raya ini. Munculnya sang surya sebagai tanda bahwa kehidupan dalam naungan cahaya illahi sehingga tampak jelas berwarna warni, terlihat jelas antara hitam dan putih. Namun saat sang rembulan muncul sebagai tanda bahwa kehidupan dalam kegelapan, cahaya sang rembulan sebagai penerang karena tak terlihat jelas antara hitam dan putih sehingga hanya tampak satu warna. Kehidupan ini tak ubahnya mimpi yang nyata, di hiasi ilusi-ilusi halunisinasi yang nyata namun pada akhirnya sirna dalam ingatan manusia. Dari semua ilusi-ilusi itu ada satu titik pusaran yang setiap manusia merindukannya, sebagai puncak pengembaraan dalam kehidupan ini yaitu " Kesadaran sejati " hakekat tentang tuhan yang membawa kedamaian dan ketenangan jiwa. Sehingga pada akhirnya terciptalah budi pekerti mulia dalam diri setiap manusia sebagai cerminan titisan sang penguasa jagat semesta. Karena mahluk hidup di jagat raya ini termasuk manusia adalah gambaran wujud manifestasi dari sang pencipta.

AKAR KEBENCIAN

  Pasanglah telinga mu hai langit, aku mau berbicara dan baiklah bumi mendengarkan ucapan mulut ku. Mudah-mudahan teguran ku menitik laksana hujan dan perkataan ku menetas laksana embun, selaksa hujan renai ke atas tunas muda dan laksana dirus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan. Sebab api telah dinyalakan oleh murka yang menyala-yala sampai ke bagian dunia orang mati yang paling bawah.

  Api itu memakan bumi dengan hasilnya serta menghanguskan dasar gunung-gunung, menimbulkan malapetaka ke atas engkau, seluruh anak panah ku akan ku tembakkan kepada engkau. Apabila engkau sudah lemas karena lapar dan merana oleh demam yang membara dan oleh penyakait sampar, maka aku akan melapaskan taring taring binatang buas kepada engkau dengan racun binatang yang menjalar di dalam debu. 

  Pedang di luar rumah dan kengerian di dalam kamar akan melenyapkan teruna maupun dara dan anak menyusui serta orang ubanan. Apa bila aku mengasah pedang ku yang berkilat-kilat dan tangan ku memegang belati, maka aku akan membalas dendam ke pada engkau serta mengadakan perhitungan ke pada yang membenci aku. 

  Aku akan membubuhkan anak panah ku dengan darah dan pedang ku akan memakan daging serta darah orang-orang yang mati tertikam dan orang-orang yang tertawan dari kepala-kepala musuh ku yang berjangut dan berkumis panjang serta yang tak berjangut dan berkumis panjang dan tebal.

ANGGEL


  Siapakah engkau yang muncul dalam ke hidupan ku, laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya. Betapa cantik nan jelitanya engkau, hai...maniezt yang terjelita di antara kuntum-kuntum bunga melati di lembah asmara. Engkau elok sekali maniezt ku tak ada cacat cela pada diri mu. 

  Engkau debarkan jantung ku dengan kilasan senyum mu, engkau debarkan hati ku dengan satu kejapan mata mu. Air yang berlimpah di samudra tak dapat memadamkan bara cinta ku, derasnya gelombangpun tak dapat menghayutkan rindu ku. 

  Engkaulah anggel malaikat cinta ku, lihatlah apakah pohon mawar sudah berkuncup dengan bunga-bunganya telah merekah. Tidakkah engkau lihat bunga melati telah berbunga, menebar warna putih suci berzuntai sedap di pandang mata. Pabila semua itu telah terjadi saat itulah aku berharap, engkau akan membuka hati mu menerima cinta ku pada mu.

KUTUK ANGKARA MURKA

  Bara api angkara murka berkilat membakar nafsu serakah akan indahnya duniawi, coba lihatlah di sana di tanah berpasir. Apakah engkau kira di sana tempat bersemayam tuhan pembawa ke damaian. Tidak..! di sana hanya ada siulan dan tepuk tangan belaka. Tidak..! di sana hanya ada tangis ratapan permohonan pengampunan, tidakkah engkau tahu semua itu hanyalah kesia-siaan belaka.

  Di sana hanya ada jerit tangis menyayat pilu yang membuka luka sejarah duka nestapa. Darah dan nyawa tak ada arti demi ambisi para penyihir berbaju suci berselimut dogma surgawi yang berdiri atas nama ke merdekaan dan ke benaran sebagai pembela panji-panji  jalan tuhan. Sesungguhnya tangan tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengarannya tidak kurang tajam untuk mendengarkan.

  Tetapi yang merupakan pemisah antara engkau dan tuhan ialah segala kejahatan mu yang membuat tuhan menyembunyikan diri terhadap engkau sehingga tuhan tidak mendengarkannya karena dosa mu. Sebab tangan mu cemar oleh darah dan jiwa mu oleh kemusyrikan, mulut mu mengucapkan dusta, lidah mu penuh tipu muslihat. Maka engkau tidak akan mengenal jalan damai dan dalam jejak mu tidak ada ke adilan. Karena engkau mengambil jalan yang bengkok dan setiap orang yang berjalan di situ tidaklah mengenal jalan kedamaian.

PENGORBANAN


 Coba tengoklah dan lihatlah...gunung-gunung yang dulu tegak kokoh berdiri, kini hanya bongkahan batu pasir berdebu. Lihatlah karang di tepi samudra yang dulu tegar kokoh menantang, kini hanya tersisa serpihan karang berlumut. Jangan-jangan surut kaki mu ke belakang walaupun  setapak, tetaplah berjalan walaupun mendaki, tetaplah berjuang walaupun  terhalang. Hadapi saja usah kau gentar ataupun resah. Laksana gunung engkau sebagai pancang agar bumi tidak berguncang, laksana karang yang tegar engkau menghadang agar daratan tak habis terkikis. Engkau ibarat lilin yang menerangi di kala gelap gulita walaupun tubuh habis terbakar di makan api namun tetap menyala, karena tak ada perjuangan tampa pengorbanan. "SELAMAT BERJUANG"

PENYEMAI ASA

Aku bukanlah pujangga yang haus akan pujian.
Aku bukanlah penyair yang membuat orang tersihir.
Aku adalah sang benabur penyemai asa di balik nestapa karena jiwa-jiwa yang tepasung oleh angkuhnya dogma.
Sehinga terjatuh ke dalam dosa, bukalah mata batin mu sobat acungkan kepalan tangan mu teriakan dengan lantang AKU...!AKAN...!BANGKIT!!!.
Walau seribu peluru menembus jantung dan panasnya bara api menghanguskan kulit.
Membakar amarah angkara murka roh jahat yang menyesatkan sampai di ujung tepi jurang neraka.

SANG PEMBEBAS


  Setetes embun di tanah yang gersang, selaksa sepasang mata untuk cinta yang buta. Memeluk gerhana berselimut kabut, di kala malam gelap gulita. Angin bertiup mengarak awan ke suatu negeri yang mati, hujan turun menghidupi bumi, negeri yang elok negeri kayangan. Berjalanlah engkau di muka bumi lalu tengoklah bagai mana kesudahan orang-orang sebelum engkau, tanggalkanlah baju lesuh mu bukalah terompah kaki mu lalu basuhlah kaki mu dengan setetes embun di padang yang gersang itu.

   jangan engkau mengotorinya lagi, Menjauhlah-menjauhlah...! keluarlah dari sana, keluarlah engkau dari sana janganlah engkau kena kepada yang najis !  keluarlah dari tengah-tengahnya sucikanlah diri mu. Hai...engkau yang mentasbihkan diri orang-orang yang paling benar dan beriman yang mengangkat perkakas tuhan, engkau telah mendengar firman-firman tuhan baik tulisan maupun lisan, tentang kabar berita seorang satrio piningit, sang ratu adil, imam mahdi atau tentang isa Al masih akan turun ke bumi. 

Sebagai taruk ia tumbuh ke hadapan tuhan dan sebagai tunas yang tumbuh dari tanah yang tandus dan gersang. Ia akan dihina dan dihindari orang, ia seorang yang penuh kesengsaraan serta yang biasa menderita kesakitan. Ia sangat di hinakan sehingga orang-orang akan menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungaan. 

Namun demikianlah kelak dia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja serta para penguasa akan mengatupkan mulutnya melihat dia. Sebab apa yang tidak diceritakan ke pada mereka akan mereka lihat dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami. Siapakah yang percaya kepada kabar berita yang kami dengar dan kepada siapakah tangan kekuasaan tuhan di nyatakan. 

Dia...yang dinantikan namun tidak di harapkan, dia...yang di rindukan namun di benci, dia...yang di bicarakan namun di pungkiri. Percayakah engkau jika ku katakan dia yang dijanjikan telah turun ke bumi ! bukan jasad yang aku lisankan namun Energy sepiritual yang dulu pernah turun ke pada ABRAHAM, MOSES, YESUS, MUHAMAD SAW. Dia...lah sang pembebas. Damai Sejahtera, Haleluya, Alhamdulillah, AMIN/AMEN.

KE DAMAIAN

   Mendung di langit meredupkan cahaya sang surya, awan hitam ber'arak di antara gemuruh halilintar. Butir-butir air jatuh membasahi bumi, tanda-tanda ke hidupan baru akan di mulai. Benih yang lama terpendam dalam gelapnya tanah kering berkerikil menampakan dirinya, orang-orang suci kembali bangkit dari gelapnya kubur, menyambut terang cahaya datangnya hari penghakiman.

   Menangislah orang yang dahulu banyak tertawa, menjeritlah orang orang yang dahulu banyak mencaci maki. Namun tersenyumlah orang yang dahulu banyak bersedih, bernyayilah orang yang dahulu selalau di hina. Bersuka citalah hai engkau anak-anak ibu pertiwi yang percaya ke pada tuhan sebagai tuan bagi semua mahluk, yang akan kembali menjadikan bumi seperti di surga.

REVOLUSI PERADABAN


  Semula kupu-kupu itu dari ulat yang menjijikan, namu lambat laun ulat berubah menjadi kepompong dan pada akhirnya kepompong berubah menjadi kupu-kupu yang indah menarik hati setiap mata yang memandangnya.

  Sadarkah kita bahwa apa yang terjadi pada segenap penjuru alam semesta,  sebagai gambaran akan kekuasaan tuhan sekaligus sebagai teguran bagi umat manusia. Termasuk bagi kita dan para pemimpin bangsa ini dan bangsa-bangsa yang lain serta para pemimpin sepiritual yang ada di muka bumi ini.

  Kedamaian dan kesejahteraan serta kebahagian hanyalah angan-angan yang menipu, kebenaran serta ke adilan hanyalah mimpi di siang bolong yang tak berawal dan berakhir. Para pemimpin suatu golongan yang berdiri mengatas namakan organisasi sepiritual, mengklaim kelompok merekalah yang paling benar dan paling suci, berkamuflase sebagai pengayom serta pelindung. 

  Mereka bersembunyi di balik ayat-ayat kitab suci dan hukum, sebagai kata-kata pamungkas pembenaran akan exsistensi perbuatan yang telah mereka lakukan.

 Semua itu harus terjadi sebagai tanda-tanda ( ayat-ayat ) bahwa rotasi pergantian jaman dan peradaban ke hidupan, sedang menuju titik alfa omega, sebagai tradisi tuhan yang sedang berproses pada pengenapan. Laksana kupu-kupu yang berasal dari ulat menjadi kepompong untuk mencapai kesempurnaan, tungulah sesungguhnya telah dekat waktunya.

TULUS

   Tak pernah terbersit dalam pikiran ku untuk menduakan mu apa lagi untuk meningalkan mu, karena nama mu telah terukir indah dalam sanubari ku. Hanya engkaulah satu-satunya tidak ada yang lain selain diri mu, tiada sehelai daunpun yang gugur walau topan bergemuruh menerpa pokok-pokok jiwa ku, tidak akan jatuh sebutir bijipun yang ku tabur dan ku semai dalam kegelapan bumi. 

  Itu semua bukanlah menurut angan-angan yang kosong, ku kasihi diri mu dengan segenap hati ku dan dengan segenap jiwa ku dan dengan segenap akal budi ku. Aku menadahkan tangan ku ke pada mu jiwa ku haus ke pada mu seperti tanah yang tandus. Jangan sembunyikan wajah mu terhadap ku sehingga aku seperti mereka yang turun ke liang kubur, beritahukanlah aku jalan yang harus ku tempuh sebab ke pada-mulah ku angkat jiwa ku.

KABUT BERDUKA

Ketika langit membawa kabut yang nyata, dan ketika laut telah terbelah.  Mengalunkan syair angkara murka sebagai tanda akan berduka. Banyak taman dan mata air yang di tinggalkan, kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah luluh lantah di terjang ombak samudara selaksa tangan mengapai asa. Menciptakan sebuah karya yang nyata lukisan alam porak poranda, maka tidak ada yang terlihat lagi kecuali bekas puing-puing kesedihan terbalut luka perih merana. Namun langit dan bumi tidak menangis, karena itu semua datang dari sisi sang penguasa jagatraya, sebagai tanda angkaramurka. Maka... tunggulah hari itu ketika langit membawa kabut yang nyata kabar berita dan peringatan.

NOSTALGIA


  Waktu terus berjalan, roda terus berputar. Semua yang telah terjadi tak dapat kembali lagi, teringat aku akan semua masa lalu ku. Masa-masa di mana aku bebas terbang menikmati hidup, tampa suara tampa kata-kata yang mengikat jiwa dan raga.

   Semua nostalgia itu takakan pernah sirna...walau di telan oleh waktu yang terus berputar, teringat aku terkenang masa kecil ku, teringat aku terkenang pada sosok yang pernah mengisi relung hati ku, teringat aku terkenang hitam-putih perjalanan hidup ku. Masa lalu hanya dapat di kenang namun tak dapat terulang.

TERPASUNG BAYANGAN MU

 Seperti matahari dan hujan, yang terbit dan dicurahkan bagi semua mahluk, tidak memandang muka dan tidak pandang bulu.

Sempurna menerangi bumi, membuat mata terbuka karena pancaran cahayanya serta menetas menyejukan jiwa yang merana terpasung di pusaran kasih sang pujan jiwa. Engkaukah itu...? yang selalau hadir dalam lamunan ku.

Engkaukah itu...? yang selalau membayangi kata-pikir dan perbuatan ku, jika memeng itu engkau...! di manakah senyumman yang mampu meruntuhkan tembok ratapan itu, 

Jika memang itu engkau di manakah indah gemulainya langkah mu yang sanggup meredupkan sang purnama di kala malam. 

Ku nanti dan kanselalu kunanti kerling mata mu yang membuat setiap mata yang beradu pandang akan menunduk karena takjub akan ke elaokan serta kejelitaannya diri mu

Senin, 25 Juni 2012

BUANGLAH KEBEBALAN

Takut akan tuhan ialah membenci kejahatan benci kepada kesombongan, kecongkakan, kemusyrikan, kemunafikan, kefasikan dan tingkah laku yang jahat serta mulut yang penuh dengan muslihat. Karena kebencian menimbulkan pertengkaran dan perselisihan tapi kasih menutupi segala pelanggaran. Sebelum air samudra raya ada itu semua telah lahir dan sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air semua sifat itu telah ada. Ketika tuhan menentukan batas kepada laut dengan mata air samudra yang meluap dengan derasnya, agar air jangan melanggar titah. Buanglah kebodohan maka kamu hidup dan ikutilah jalan pengertian, siapa bijak hati memperhatikan perintah-perintahnya, tetapi siapa yang bodoh bicaranya akan jatuh. Berlaku cemar adalah kegemaran orang bebal, siapa banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya berakal budi.

x

KIDUNG RINDU

Seperti matahari dan hujan,yang terbit dan dicurahkan bagi semua mahluk, tidak memandang muka dan tidak pandang bulu, sempurna menerangi bumi,membuat mata terbuka karena pancaran cahayanya serta menetas menyejukan jiwa yang merana terpasung di pusaran kasih sang pujan jiwa.


engkaukah itu...? yang selalau hadir dalam lamunan ku, engkaukah itu...? yang selalau membayangi kata-pikir dan perbuatan ku. Jika memeng itu engkau...! di manakah senyumman yang mampu meruntuhkan tembok ratapan itu.


Jika memang itu engkau di manakah indah gemulainya langkah mu yang sanggup meredupkan sang purnama di kala malam. ku nanti dan kanselalau kunanti kerling mata mu yang membuat setiap mata yang beradu pandang akan menunduk karena takjub akan ke elaokan serta kejelitaannya diri mu.


Kau yang terelok diantara jutaan wanita, lihatlah cantiknya engkau manis ku putih bersih merah cerah merona wajah mu, Engkau yang terjelita menyolok mata di antara selaksa wanita.


Harum bau minyak mu dari pada segala macam rempah serta bau pakaian mu seperti bau gunung rinjani yang meyegarkan melegakan nafas ku. Bibir mu menetaskan madu murni di bawah lidah mu dan bagaikan belahan buah delima pelipis mu.


Rambut mu hitam mengombak laksana deru ombak di pantai, bayangan mu muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan sang surya, dahsyat seperti bala tentara dengan panji-panj inya.


Betapa indah langkah-langkah mu dengan lengkung pinggul mu bagai perhiasan karya tangan seniman, pusar mu seperti cawan yang bulat yang tak kekurangan anggur merah. Perut mu rata berpagarkan bunga-bunga bakung. Bagi ku engkau laksana candu segala candu yang mampu membuat jiwa ku terkukung tersalip di tiang rindu, aku yang selalu merindukan mu kasih ku.

KEBAJIKAN DAN KEJAHATAN


 Berpeganglah pada didikan janganlah melepaskannya peliharalah dia, karena dialah hidup mu janganlah menempuh jalan orang fasik dan jangalah mengikuti jalan orang musyrik. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus. Sesungguhnya dalam hidup ini hanya ada dua jalan  (KEBAJIKAN DAN KEJAHATAN ). Karena perintah itu pelita dan ajaran itu cahaya dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan yang melindungi engkau dari si jahat. Sebab jika engkau mengikuti jalan si jahat laksan mawar merah yang mengoda hati untuk mencium harumnya maka tatkala harumnya telah sirna dan telah layu engkau akan di campakan begitu saja. Karena sijahat itu  laksana belati ia akan menikam jantung mu di saat engkau lengah dan seketika itu juga engkau akan terlempar ke lembah pendosa yang penuh dengan ke palsuan,

x

KE KASIH JIWA


 Aku hendak menyanyikan kasih setia ku pada mu, kesetian ku dan kasih ku menyertai mu. Aku akan memelihara kasih setia ku bagi mu untuk selama-lamanya, kasih setia ku tidak akan ku jauhkan dari pada mu dan aku tidak akan berlaku curang dalam hal kesetian ku pada mu. Aku tidak akan melanggar janji ku, semua yang keluar dari mulut ku tidak akan ku ubah. Semua yang telah ku ikqrarkan di atas gunung thursina, di puncak bukit jaitun, di sisi sebelah kanan bukit aqobah. Elok nan jelitanya engkau kasih, selaksa pelangi berwarna-warni di pagi hari di antara ke dua sisi anak gunung Krakatau. Dengan hiasan asap laksana jamur memayungi bumi, dari terbitnya sampai tengelamnya sang mentari. Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya telah ku condongkan hati ku untuk selalu bersama mu, kiranya persembahan sukarela yang berupa puji-pujian berkenan pada mu dan ajarkan aku untuk mengenal diri mu yang seutuhnya.


IMAN TAMPA PERBUATAN

 Iman tanpa perbuatan bagai melukis keranjang di atas pasir, sekali ombak samudra bertandang sehari amal menghilang. 

Iman tanpa perbuatan bagai keranjang berisi pasir, menganggap yang berkilau mutiara namun adanya pasir berduri. 

Iman tanpa perbuatan bagai bertalai di hamparan pasir samudara, bila siang di bakar cahaya saat malam sebeku angin. 

Iman tanpa perbuatan hakekatnya mati, bagai membawa keranjang pasir berjalan ditengah malam, kau sangkakan terasa ringan ternyata semua sirna laksana debu tertiup angin.

SYAIR KEMATIAN

  jangan pernah ada duka pada mu walau seribu busur panah menusuk jantung mu, jangan pernah ada tangis di hadapan mu walau seribu serdadu mengepung mu, karena ada tertulis di dalam kitab-kitab Tuhan Yang Maha Esa. Sesunguhnya Tuhan telah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. MEREKA MEMBUNUH ATAU TERBUNUH, itu telah menjadi janji yang benar dari Tuhan di dalam TAURAT, INJIL, Al QURAN dan WEDA siapakah yang lebih menepati janjinya selain dari pada Sang Maha Esa. Hadapi jangan engkau gentar walau deru ombak samudara mengulung mu, tetaplah bersabahak hingga engkau tidak tengelam di lautan darah mayat-mayat yang bergelimpangan laksana daging di dalam kuali.

Rabu, 20 Juni 2012

MAKNA KARAKTER PANCASILA DAN LAGU INDONESIA RAYA

                   Nilai-Nilai Luhur "PANCASILA"

  Sebagai sebuah bangsa, kita harus bersatu padu agar menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh. Untuk itu dibutuhkan satu pedoman yang dapat menyamakan cara pandang dan karakter anak-anak bangsa yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Pedoman tersebut adalah Pancasila yang merupakan kristalisasi dari nilai-nilai luhur budaya Nusantara dan refleksi perenungan dari warisan sosio-historis bangsa Nusantara, sekaligus menjadi pilar penyangga utama bangunan arsitektural bangsa Indonesia.

Amat disayangkan, spirit reformasi untuk memperbaiki segala produk yang buruk dari rezim sebelumnya dan menggantinya dengan produk yang reformis, berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional’ tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai norma dasar sekaligus sebagai payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga bangsa Indonesia dari Aceh hingga Papua. Sedangkan Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan persatuan dan kesatuan bangsa. Walaupun kita terdiri beragam suku dan multikultural, namun kita tetap satu bangsa, bangsa Indonesia, berbahasa yang satu, bahasa Indonesia, dan ber-tanah air yang satu, tanah air Indonesia. Begitu juga bendera kebangsaan merah putih sebagai lambang identitas bangsa.

Pada kesempatan ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan oleh banyak kalangan yakni perlunya melakukan reinterpretasi penafsiran kembali (ulang), internalisasi (penghayatan terhadap suatu ajaran), doktrin, atau nilai sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yg diwujudkan dalam sikap dan perilaku) dan reaktualisasi (proses, cara, perbuatan mengaktualisasikan kembali; penyegaran serta pembaruan nilai-nilai kehidupan masyarakat ) yaitu nilai-nilai luhur budaya Pancasila, sehingga pada diri setiap anak bangsa untuk selanjutnya menjadi karakter sejati dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi tantangan globalisasi dan problematika bangsa, kini dan masa  yang akan datang. 

Saya menyadari bahwa dalam setiap kurun waktu sejarah memiliki kondisi-kondisi kehidupan yang membentuk dan mempengaruhi kerangka pemikiran dan medan pengalaman seseorang atau kelompok dengan muatan kepentingan yang berbeda, sehingga proses pemahaman terhadap suatu falsafah dasar negara yaitu "Pancasila" dapat terus berkembang dalam praktek di hari esok. Untuk itu, penafsiran terhadap Pancasila yang merupakan kumpulan nilai-nilai luhur budaya Nusantara dan sekaligus sebagai jati diri bangsa  membutuhkan satu rujukan penafsiran standar yang dapat dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya. Untuk itu saya terpanggil untuk melakukan reinterpretasi terhadap kelima dasar Negara Republik Indonesia, yang diilhami oleh spirit suci dan nilai-nilai kebenaran universal untuk membangun bangsa yang berkarakter, merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

SILA KE 1: KETUHANAN YANG MAHA ESA


 Maksudnya bahwa bangsa Nusantara harus taat kepada Tuhan Yang Esa, yakni Tuhan semesta alam, tanpa perlu mempersoalkan penyebutan namanya; Gusti, Karaeng, Allah, Sang Hyang, Jehova, YHWH atau sebutan lainnya. Dalam menerapkan ajaran Tuhan Yang Esa, setiap insan tidak boleh dipaksa atau memaksa untuk mengikuti suatu keyakinan, karena Tuhan yang maha Esa tidak pernah memaksakan manusia untuk mengikuti atau mengimani suatu ajaran yang iya turunkan. Aplikasi dari Ketuhanan Yang Maha Esa adalah negara membuat dan melaksanakan peraturan didasarkan kepada prinsip-prinsip kebenaran, yakni menggunakan pendekatan ilmiah dan alamiah. Karena hidup berdasarkan hal-hal yang ilmiah adalah fitrah manusia beriman, untuk itulah, semua produk hukum yang dibuat tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai Kebenaran Universal. Jadi, azas pertama dalam Pancasila soal Ke-Tuhanan menyangkut hal kepatuhan kepada jalan kebenaran yang ilmiah, bukan sekedar urusan ritual.

Tidak ada gunanya kita mengakui asas Ke-Tuhanan Yang Maha Esa jika hanya secara pribadi. Untuk membentuk negara yang damai sejahtera, seharusnya satu komunitas bangsa Indonesia ber-Tuhan hanya pada Tuhan Yang Satu, Tuhan semesta alam, bukan tuhan hasil reka syahwat manusia. Untuk itulah, saya mengajak bangsa Indonesia untuk ber-Tuhan hanya pada Tuhan Yang Maha Esa. Dari itu dituntut kepatuhan setiap warga kepada peraturan Negara yang dibuat berdasarkan nilai-nilai dasar ajaran Tuhan Yang Maha Esa bukan berdasarkan nilai-nilai ajaran keyakinan tertentu. Karena aturan dan peraturan itu dibuat untuk mengatur orang banyak yang berlatar belakang keyakinan berbeda-beda agar tercipta kehidupan yang harmonisasi, adil, damai dan sejahtera.

SILA KE 2: KEMANUSIAN YANG ADIL DAN BERADAB


 Semua hukum bersumber kepada dua prinsip: “Kecintaan sepenuhnya kepada Tuhan Semesta Alam dan kecintaan yang tulus kepada sesama Manusia sebagaimana kecintaan kepada diri sendiri”. Ukuran adil adalah diri kita sendiri. “Lakukanlah apa saja yang kita senang jika orang lain melakukannya pada diri kita. Jangan lakukan pekerjaan yang kita benci jika orang lain melakukan hal itu pada diri kita”. Jika Anda tidak suka ditipu, maka janganlah menipu. Tetapi jika kita ditipu jangan balas menipu, tetapi jadilah manusia pemaaf yang cinta damai, pengasih dan penyayang sesuai dengan sifat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. 

  Dengan nilai kemanusiaan, Kita akan melihat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang harus dikasihi, tanpa melihat apa latar suku, bahasa, budaya dan keyakinanya. Sila kedua Pancasila ini menginginkan kita untuk tidak sektarian (picik, terkungkung pd satu aliran saja), agar Kita dapat menjadi manusia yang berharmonisasi bagi seluruh alam. Bukankah Dia adalah Tuhan bagi semua manusia (bukan Tuhan orang-orang dari keyakinan tertentu saja). Andil artinya, dalam menegakkan keadilan, hukum tidak memandang latar belakang suku, ras, keyakinan dan golongan. Sedangkan beradab artinya mempunyai tatakrama dan sopan-santun, lawannya adalah biadab, perbuatan yang tidak mengenal tata krama, hukum positif, prikemanusiaan, dan hati nurani.

SILA KE 3: PERSATUAN INDONESIA


  Menghayati sila pertama dan kedua di atas adalah syarat bagi terwujudnya sila ketiga. Walaupun bangsa ini beraneka ragam etnis, bahasa, budaya, agama/keyakinan atau apapun juga, namun tidak berarti kita boleh berpecah-belah. Tidak boleh ada orang  atau sekelompok orang yang ingin memecah-belah bangsa Indonesia hanya demi memenuhi nafsu politiknya atau keyakinannya. Sebab kemerdekaan bangsa Indonesia adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemerdekaan Indonesia adalah “jembatan emas” dan Proklamasi kemerdekaan bukanlah akhir dari revolusi, tetapi awal dari pembangunan bangsa ini. Revolusi belumlah tuntas. Namun menurut hemat saya, revolusi utama kita yang harus lakukan saat ini, bukanlah revolusi politik yang membutuhkan cost sosial-ekonomi yang mahal ataupun revolusi militerizem, tetapi revolusi moral spiritual  pada setiap anak bangsa sebagai basis persatuan dan kesatuan bangsa. 

 Perlu diingat, bahwa perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia hanyalah mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara  Republik Indonesia Raya. Dengan kata lain, sesungguhnya Kita baru didepan pintu gerbang belum memasuki pintu gerbang kemerdekaan tersebut, bahkan kita belum melewati gerbang kemerdekaan sebagai jembatan emas menuju kemerdekaan yang seutuhnya, sehingga bangsa ini belum merasakan kehidupan bangsa yang betul-betul merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Untuk itu, sudah saatnya Kita bersatu padu dan bergotong royong memasuki Gapura kemerdekaan atau melewati–apa yang diistilahkan oleh Bung Karno dengan “jembatan emas”. Agar sesampainya di seberang sana, Kita mampu memulai membangun tatanan masyarakat bangsa Nusantara yang merdeka sepenuhnya, adil dan damai sejahtera; atau apa yang disebut sebagai Indonesia Raya Nusantara Jaya yang  ( subur melimpah, adil, makmur, tertib, tentram, damai selamanya, serta menjadi kiblat kawah candra dimuka dan menjadi contoh bagi negara-negara di seantero Jagat Raya). 

SILA 4: KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN /PERWAKILAN 


   Dalam sila keempat ini jelas disebutkan kerakyatan yang dipimpin. Artinya, rakyat ini ada pimpinannya,  namun bukan menjadi Tuhan. Sedangkan dalam Demokrasi ala Barat, suara rakyat adalah suara Tuhan (Vox Populi Vox Dei). Dalam hal ini, rakyat tidak boleh melanggar prinsip hikmat kebijaksanaan, yakni prinsip dan nilai-nilai kebenaran universal dari Tuhan Yang Maha Esa. Rakyat tidak boleh berbuat semaunya, tetapi harus dipimpin oleh suatu hikmat kebijaksanaan dari Tuhan Yang Maha Esa.


 Rakyat diberi hak di dalam permusyawaratan perwakilan atau bermusyawarah dalam berbagai urusan, tetapi tetap dikendalikan oleh hikmat kebijaksanaan, yaitu prinsip dan nilai-nilai Kebenaran sejati. Musyawarah untuk mufakat adalah sistem sejati dari budaya Nusantara dalam mengambil satu keputusan, seperti dalam suksesi kepemimpinan. Sistem pemilihan pimpinan bangsa adalah sistem perwakilan, yakni dilakukan oleh para wakil rakyat dalam Dewan Permusyawaratan/Perwakilan, tidak dilakukan secara langsung oleh rakyat yang hanya menghamburkan dana yang tidak sedikit jumlahnya dan menjadi ajang manipulasi politik. Tujuan dari keempat sila Pancasila sebelumnya adalah dalam rangka mewujudkan sila ke 5.


SILA KE 5: KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA


  Adil berarti tidak boleh ada warga bangsa yang terzhalimi hak-haknya seperti banyak kasus yang terjadi sekarang ini. Walaupun orang yang kurang mampu atau miskin akan tetap ada, tetapi hak-hak dasarnya harus terjamin dan terpenuhi, yakni kebutuhan akan sandang, pangan dan papan. Dan hal ini berlaku bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa melihat suku, bahasa, adat istiadat, agama dan sebagainya.

  Sekali lagi saya katakan kita perlu melakukan gerakan reinterpretasi, reaktualisasi, dan internalisasi nilai-nilai luhur Pancasila guna memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam upaya penyelesaian berbagai permasalahan bangsa menuju Indonesia Raya, Nusantara jaya. Sekaligus sebagai momentum untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila sebagai Falsafah pandangan hidup/pendirian hidup (Weltanschauung), yang tidak hanya menjadi pondasi, tetapi juga sebagai perekat sekaligus payung yang menaungi seluruh anak Nusantara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kami meyakini dengan menjadikan nilai-nilai kebenaran Universal dan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pandu bagi Ibu pertiwi, maka arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik dan lebih pasti, yakni Indonesia Raya akan terwujud. 

*********************************************************************************************************************************************

                 MAKNA LAGU INDONESIA RAYA


  Bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, nasib dari Pancasila sama mirisnya dengan Lagu kebangsaan Indonesia Raya yang juga semakin ditinggalkan oleh “penggemarnya”. Lagu Indonesia Raya tak ubahnya sebagai bacaan wajib dalam sebuah acara ritual keagamaan yang hampa akan makna dan tak punya spirit (energi) sedikit pun untuk dapat membangkitkan jiwa kejuangan yang menyanyikannya. Kita hanya mampu berucap “Merdeka! Merdeka!”, namun tidak mampu membangkitkan semangat kita untuk betul-betul hidup menjadi pribadi yang merdeka. Ada baiknya, di samping reinterpretrasi dan internalisasi nilai-nilai luhur Pancasila, kita pun melakukan hal yang sama terhadap lagu kebangsaan Indonesia Raya karya W.R. Supratman, seperti berikut:

  Indonesia Tanah Airku; bahwa Indonesia sebagai tempat tinggal Kita bersama sebagai bangsa Nusantara yang terdiri dari wilayah darat 25% dan wilayah laut 75%. Bangsa yang memiliki sejumlah keunikan dan keunggulan dari bangsa lain di muka bumi, seperti batiknya khas. Tanah Tumpah Darahku; bahwa kita dilahirkan dengan bersimbah darah di negeri Indonesia, dan untuk itulah, sudah seharusnya Kita pun berkiprah dan berjuang di negeri ini. Di Sanalah Aku Berdiri jadi Pandu Ibuku; bahwa kita lahir dari tanah atau perut bumi pertiwi ini, dan saya siap serta sanggup berdiri di depan bersama elemen bangsa lainnya menjadi Pandu bagi kejayaan Ibu Pertiwi.

  Indonesia Kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku, Marilah Kita Berseru Indonesia Bersatu, serukanlah kepada warga Indonesia untuk bersatu, dan jangan berpecah-belah. Biarlah para pemimpin dan elit bangsa hari ini hidup berpecah-belah dan saling bermusuhan hanya karena perbedaan golongan atau partai politik. Pertanyaannya kemudian adalah dengan apakah mempersatukan bangsa ini? Apakah dengan ideologi sosialis-agamis atau sosialis komunis dari Timur atau liberalis-kapitalis dari Barat? “Bukanlah suatu kebaikan menghadapkan ideologimu ke Timur maupun ke Barat. Menjalankan sistem aturan Tuhan semesta alam itulah yang baik dan fitrah”. Jiwa manusia tidak akan sanggup dipersatukan oleh sistem buatan manusia, jiwa dan pemikiran ummat manusia hanya dapat dipersatukan oleh sistem atau hukum yang mengatur naluri hidup manusia, yakni ajaran Tuhan semesta alam yang merupakan fitrahnya manusia, karena tuhan  yang satu walaupun dalam ucapan yang berbeda-beda namun esensinya sama dialah Tuhan yang maha esa. Tuhan tidak mengajarkan kepada manusia untuk berbuat jahat dan berbuat zhalim 

   Indonesia bersatu dalam satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air, dan satu visi-misi kehidupan. Sudah saatnya, bangsa Indonesia kembali pada sistem yang fitrah bagi setiap warganya. Mari Kita luruskan kembali arah tujuan segenap warga Indonesia untuk menjadikan bangsa ini berada di atas segala bangsa-bangsa, menjadi bangsa yang damai-sejahtera berdasarkan nilai-nilai Kebenaran universal dari Tuhan Yang Maha Esa, bukan nilai-nilai ideologi warisan kolonial pejajah Timur, Barat ataupun Timur Tengah.

  Hiduplah Tanahku, Hiduplah Negeriku, Bangsaku Rakyatku Semuanya; Urusan menghidupkan tanah secara alami sudah menjadi urusan Tuhan semesta alam, tetapi tugas untuk menghidupkan “tanah” alegoris, yang bermakna rakyat adalah tugas insan-insan paripurna yang berahlak mulia. Indonesia ibarat lahan yang subur bagi tumbuhnya tanaman-tanaman (baca: generasi-generasi) dengan varietas unggulan di masa datang. Tanah Indonesia harus ditanami tanaman-tanaman yang baik, yaitu orang-orang yang berbudi mulia. Negeri ini harus ditata agar menjadi negeri sorgawi, Taman Eden, seperti era peradaban Nusantara pra sejarah. Demikian Prof. Arysio Santos menyimpulkan, bahwa Indonesia pernah menjadi Taman Eden. Bagi mayoritas manusia hal ini dianggap tidak mungkin, tetapi apa-apa yang tidak mungkin bagi manusia menjadi mungkin bagi Tuhan semesta alam.

  Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya; Setiap pemimpin dan rakyat harus berusaha membangun jiwa bangsa Indonesia, seperti yang dicontohkan oleh Bung Karno dengan visi membangun karakter bangsa. Bangsa Indonesia harus memiliki karakter atau akhlak, yaitu jiwa yang kuat, yang berbeda dengan bangsa lainnya. Bukankah Tuhan mencipta manusia menurut rupa dan potret diri-Nya. Inilah yang seharusnya menjadi karakter bangsa Indonesia. Karena Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka rakyat Indonesia yang menjadi hamba-Nya di bumi pun harus memiliki sikap pengasih dan penyayang yang lebih, dibandingkan dengan orang-orang di bangsa lain.

  Kepada seluruh warga bangsa, “Jadilah orang-orang yang menata kehidupan alam dan sosio-manusia berdasarkan kasih-sayang”. Ketika jiwa seseorang telah terbangun, maka kecukupan fisik atau badan akan turut serta mengikutinya. Tetapi jika jiwanya belum dibangun, maka dia akan menjadi orang yang rakus, pelit dan korup. Orang yang jiwanya sudah terbangun akan memberikan jubahnya ketika diminta bajunya, dan ketika dia memberi tidak pernah berharap kembali. 

  Untuk Indonesia Raya; Indonesia Raya berbeda dengan Indonesia. Indonesia adalah wilayah negara bekas jajahan Hindia-Belanda. Ketika Belanda menjajah Indonesia, Portugis menjajah Timor-Timur, dan Inggris menjajah Singapore dan Malaysia, sehingga teritorial kekuasaan Indonesia adalah daerah-daerah peninggalan kekuasaan Hindia-Belanda. Sedangkan yang akan dipersatukan oleh generasi dari Nusantara ini lebih luas daripada negara Indonesia kini, di mana kita memiliki kesamaan etnis dan bahasa. Bangsa Melayu Nusantara atau Indonesia Raya daerahnya sampai ke Thailand dan Filipina.

  Jika bangsa Indonesia nanti telah makmur damai-sejahtera, maka bangsa-bangsa Melayu lainnya akan mudah dipersatukan. Tidak seperti hari ini, jangankan bangsa Melayu lainnya, warga negara Indonesia yang di perbatasan Kalimantan Utara menggeser sendiri patok perbatasan, yang sebelumnya masuk wilayah Indonesia sekarang menjadi wilayah Malaysia. Hal ini terjadi karena mereka merasa tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia dan merasa damai dengan negeri tetangga. Kami yakin, jika bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa yang adil, makmur dan damai sejahtera, maka mereka dengan senang hati akan memindahkan kembali patok perbatasan tersebut atau mencabutnya sama sekali, kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. 

  Indonesia Raya, Merdeka… Merdeka; Suatu bangsa tidak akan berkembang jika masih dijajah oleh bangsa lainnya. Ibarat satu benih di bawah batu, agar dapat tumbuh harus disingkirkan dahulu batu tersebut. Saya siap berjuang untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan ideologi TIMUR MAUPUN BARAT  termasuk ideologi TIMU TENGAH selain dari paham Tuhan semesta alam. Bangsa Indonesia harus bebas dari berhala, yakni kecintaan dan pengabdian kepada ideologi, pemimpin, harta, tahta, wanita, hawa nafsu, atau apapun selain Dia, Tuhan yang Maha Esa. Sehingga lahirlah manusia-manusia yang Paripurna,  yang hanya mengabdi kepada Tuhan semesta alam, tidak kepada selain-Nya. Inilah kunci utama agar pintu keberkahan langit dan bumi dilimpahkan kepada suatu Bangsa.

  Tanahku Negeriku yang Kucinta. Indonesia Raya Merdeka… Merdeka, Hiduplah Indonesia Raya. Kalimat ini menandakan bahwa bangsa Indonesia belum sepenuhnya hidup (mati suri) karena masih dijajah oleh Ideologi bangsa lain. Salah satu ciri bangsa yang mati adalah jalannya yang menunduk. Dahulu, ketika berpapasan dengan orang Belanda, orang pribumi menunduk. Mengenakan pakaian yang mengikat kaki sehingga sulit untuk berjalan apalagi berperang dan membawa senjata keris tetapi diletakkan di punggung hingga sulit untuk menggunakannya serta berjalannya pun ngesot. Itulah politik etik yang ditanamkan Belanda untuk membelenggu bangsa Indonesia agar tidak memberontak. Karenanya, Bangsa Indonesia harus dimerdekakan dan dibangun dengan spirit suci dari Tuhan Yang Maha Menghidupkan, sehingga Kita tidak takut dengan bangsa manapun, bahkan bisa lebih hebat dari bangsa Babilonia maupun bangsa Tartar (Mongolia) serta bangsa


SAATNYA MEMBANGUNKAN BANGSA INI DARI      TIDUR PANJANGNYA


" MERDEKA...!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! 


" SAMAPTA...! NUSANTARA JAYA



mm



...! ImNDmmONESI RAYA


        JAYA